FKMTF Indonesia

5 Tren Teknologi Tahun 2019 Versi FKMTF

Selamat tahun baru! Berikut beberapa tren teknologi paling menarik yang diprediksi akan datang pada tahun 2019 nanti menurut FKMTF.

1. Quantum Computing

Berbeda dengan komputasi klasik di mana informasinya disimpan dalam bit yang bernilai 1 atau 0, quantum computing adalah komputasi yang dilakukan dalam keadaan subatomik dari partikel (seperti ion dan elektron) dan informasinya disimpan dalam quantum bit atau qbits. Keunggulan dari quantum computing ialah kemampuannya untuk menghitung permasalahan-permasalahan kompleks yang apabila dihitung dengan pendekatan algoritma tradisional akan memakan waktu sangat lama, dapat diselesaikan dengan sekejap oleh proses quantum computing. Pada tahun 2019 ini, industri-industri seperti automotif, farmasi, finance, maupun asuransi, diprediksi akan mulai mengembangkan riset untuk menerapkan quantum computing dalam industri mereka.

 

2. Internet of Things

Walau IoT terkesan seperti tren yang sudah lama berkiprah di dunia teknologi, sebenarnya kita baru berada dalam tahap awal dari kejayaan era IoT. Pada tahun 2017, terhitung terdapat 8,4 milyar perangkat yang terhubung dengan IoT, dan pada akhir tahun 2019 diprediksi akan mencapai 30,7 milyar perangkat. Dengan terintegrasinya perangkat dengan jaringan internet, data dari perangkat akan terkumpul dan termonitor secara kolektif. Dengan dianalisanya data tersebut, produktivitas dan efisensi sistem dapat terus menerus ditingkatkan. Beberapa manfaat dari I0T sendiri yang dapat dinikmati dalam kehidupan sehari-hari seperti; perawatan medikal yang prediktif dan cepat, pensuplaian dan pengantaran stok yang automatis, maupun hiburan yang terkurasi secara personal untuk kita nikmati.

 

3. Blockchain

Mungkin bila kita mendengar kata blockchain, kata lain yang lansung terpikirkan adalah bitcoin, atau kripto kurensi. Padahal, blockchain adalah teknologi yang jauh lebih dari itu, dan dapat mengubah bentuk industri dari yang kita tau hari ini. Dalam penjelasan simpel, blockchain adalah data yang hanya bisa ditambahkan, tidak bisa diambil atau diubah, sehingga diumpamakan seperti membangun rantai atau chain data. Hal ini yang membuat blockchain sangat aman, sehingga tidak diperlukan pihak ketiga yang terpercaya untuk memvalidasi suatu transaksi. Salah satu pihak ketiga yang dimaksud ialah yang hari ini kita anggap tidak akan bisa hidup tanpanya, yaitu bank. Melalui pihak ketiga, transaksi yang dilakukan menempuh delay dan friction cost (seperti biaya transaksi). Blockchain menawarkan alternatif dimana pihak ketiga tidak diperlukan untuk ikut campur dalam bertransaksi. Selain dalam keuangan, blockchain juga dapat digunakan untuk menyimpan data medikal ataupun aset personal yang lebih aman.

 

4. Roboting Process Automation

Tergolong proses automasi seperti halnya machine learning dan AI, RPA merupakan pengautomasian kegiatan yang umum dilakukan dalam proses bisnis, seperti menginterpretasikan aplikasi, memproses transaksi, me-manage data, ataupun membalas e-mail. RPA mengautomasi kegiatan repetitif apapun yang umum dilakukan, membuat banyak pekerjaan manusia terancam dialihkan dengan RPA, termasuk pekerjaan yang tidak “simpel” seperti finance manager dan CEO. Dengan algoritma machine learning, RPA dapat mengamati workflow manusia dan mempelajarinya, lalu beradaptasi untuk melakukannya secara lebih efisien. Dengan RPA, produktivitas dan efisiensi sistem dapat jauh lebih meningkat.

 

5. Edge Computing

Pesaing baru dari tren teknologi terdahulu yaitu cloud computing, edge computing menawarkan solusi yang lebih baik untuk memproses data yang lebih banyak dengan lebih cepat, pada daerah terpencil dengan koneksi minim sekalipun. Dengan menggunakan cloud computing, nilai latency dan traffic data yang besar tidak dapat dihindari, akibat diperlukannya untuk mengakses atau mengirim data ke datacenter yang tersentralisasi. Sebaliknya, edge computing dapat bersifat seperti mini datacenter yang berada “on the edge” di jaringan yang terlokalisasi, lebih dekat dengan dimana proses komputasinya dibutuhkan. Hal ini membuat edge computing dapat digunakan untuk memproses data yang sensitif akan waktu pada daerah yang sulit berkoneksi dengan datacenter. Dalam jangka panjang dan seiring dengan berkembangnya koneksi 5G, edge computing akan dapat berkomunikasi secara robas ke datacenter yang tersentralisasi. Hal ini dikarenkan 5G memiliki latency yang rendah, bandwith yang tinggi, dan, yang terpenting untuk edge computing, jauh meningkatnya jumlah node (endpoint dari edge) per satuan luas daerah (km kuadrat).

Dengan terus meningkatnya perkembangan teknologi dan disrupsi yang disebabkannya, semoga kita bisa terus belajar dan “mengambang” pada tahun 2019 ini.

 

 

 

Referensi:

  1. https://www.ics.ie/news/view/1729 – diakses pada 31 Desember 2018
  2.  http://www.thphys.nuim.ie/staff/joost/TQM/QvC.html –  diakses pada 31 Desember 2018
  3. https://www.simplilearn.com/top-technology-trends-and-jobs-article –  diakses pada 31 Desember 2018
  4. https://www.information-management.com/list/10-top-technology-trends-to-watch-in-2019 – diakses pada 31 Desember 2018
  5. https://www.quora.com/What-will-be-the-Trending-technology-in-2019 – diakses pada 31 Desember 2018

 

 

 

 

1 comment