FKMTF Indonesia
http://www.dw.com/image/0,,18820744_401,00.jpg

Cubesat: Satelit Murah Kini Bukan Hal Yang Tidak Mungkin

Oleh Suhandinata, Surya University

Ketika kita Mendengar kata satelit, mungkin yang terbayang adalah proyek besar dan mahal. Namun saat ini cubesat sedang menjadi tren di kalangan akademisi, karena biaya yang murah untuk membuatnya.

http://www.space.t.u-tokyo.ac.jp/cubesat/news/img/011231l.jpg

Cubesat didesain pertama kali oleh Prof. Jordi Puig-Suari dari California Polytechnic State University (Cal Poly) dan Bob Twiggs dari Stanford

University pada tahun 1999. Tujuan utamanya adalah agar mahasiswa dapat membuat dan mengoperasikan satelit untuk eksperimen dan penelititan. Awalnya rancangan cubesat berbentuk segi enam, namun seiring waktu, Twiggs merancang satelit yang lebih sederhana dengan tetap memiliki kemampuan yang sama. Terinspirasi dari kubus berukuran rusuk 4 inchi di sebuah toko, terciptalah satelit kubus berukuran 10 cm. Ukuran 10 x 10 x 11,5 cm menjadi standar 1 unit (1U) cubesat dengan berat maksimal 1,33 kg.

http://www.zerognews.com/wp-content/uploads/2013/07/TRIY_46.jpg

Ukuran Cubesat

Cubesat awalnya diluncurkan sebagai pendamping misi peluncuran satelit utama dengan pelepasan langsung dari roket, namun sekarang cubesat kebanyakan diluncurkan melalui ISS dengan slot khusus pendorong cubesat seperti yang dimiliki Jepang (JAXA’s ejector for the International Space Station (J-SSOD)), NanoRacks, dan NLSA (Nano Satellite Launch Adapter System) milik NASA.

http://www.dw.com/image/0,,18820744_401,00.jpg

International Space Station

https://directory.eoportal.org/documents/163813/480251/JEMEFEx_Auto24

Cubesat Launcher J-SSOD di ISS

Sejak tahun 2000 sampai dengan 2015, berdasarkan data yang dilansir Saint Louis University Cubesat Database, terhitung tidak kurang dari 400 proyek cubesat diluncurkan. Mayoritas institusi berasal dari kalangan akademis dan juga komersial. Cubesat menjadi sangat populer karena praktis dan murah, terutama bagi institusi pendidikan, serta sebagai sarana penelitian baru.

Cubesat dapat digunakan pula untuk berbagai fungsi yang membuatnya tak kalah dengan satelit utama. Mulai dari fungsi sederhana, hingga rumit. Contohnya, institusi di negara-negara berkembang biasa meluncurkan cubesat untuk penelititan mengenai desain dan pembuatan wahana antariksa, kemudian sedikit lebih kompleks adalah untuk komunikasi sederhana, pengukuran parameter lingkungan, dan untuk pengambilan gambar (imaging). Bahkan sebuah cubesat bisa berisi payload modul eksperimen sederhana. Attitude control (kontrol gerak) pada cubesat bersifat opsional, tidak seperti satelit besar, cubesat tidak masalah jika mengalami tumbling (gerakan tidak terkendali), desain antena yang akan menentukan bagaimana kita tetap bisa berkomunikasi dengan satelit walaupun tumbling.

http://www.nasa.gov/images/content/553604main_studentCloseup.jpg

Negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand sudah meluncurkan cubesatnya. Beberapa universitas yang telah meluncurkan cubesat antara lain, Aalborg University, Denmark dengan seri AAUSAT, Tokyo Institute of Technology, Nanyang Technological University, dan banyak lagi, terutama universitas di Amerika dan Jepang. Bahkan belakangan sekolah-sekolah di Amerika juga sudah mulai meluncurkan cubesat.

C:\Users\Suhan\Downloads\VeloxPII_Auto1.jpeg

Cubesat Buatan Nanyang Technological University (NTU)

Referensi

http://www.space.com/29464-cubesats-space-science-missions.html

https://sites.google.com/a/slu.edu/swartwout/home/cubesat-database

https://amsat-uk.org/2015/09/12/iss-cubesat-deployment/

https://www.diyspaceexploration.com/decide-cubesat-payload/

http://www.nasa.gov/mission_pages/cubesats/

http://www.cubesat.org/

https://en.wikipedia.org/wiki/CubeSat

Add comment