FKMTF Indonesia

Menjaga Ketahanan Energi Indonesia Melalui Potensi Energi Baru Terbarukan

Teknik Fisika adalah suatu disiplin yang dibangun di atas landasan yang kuat dalam fisika, matematika, dan ilmu rekayasa. Secara umum, fungsi-fungsi rekayasa merentang mulai dari invensi, riset dan pengembangan, produksi dan konstruksi, sampai pada operasi, penjualan, pelayanan dan manajemen. Sebagai disiplin ilmu rekayasa, Teknik Fisika dibedakan dari ilmu rekayasa yang telah mapan seperti mesin dan elektro, karena cirinya yang multidisiplin dan antardisiplin. Ciri-ciri tersebut membuka peluang disiplin Teknik Fisika untuk merespons perkembangan kebutuhan akan hal-hal yang non-konvensional dan belum mapan, misalnya dalam hal (1) sistem pengukuran dan instrumentasi maju dan kompleks, dan (2) sistem energi terbarukan dan alternatif yang ramah lingkungan.

Salah satunya adalah energi terbarukan bagai mana energi terbarukan di Indonesia. Energi adalah salah satu kebutuhan masyarakat yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya secara pribadi namun juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Gangguan pasokan energi secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu negara. Oleh karena itu, masing-masing negara memiliki strategi energi khusus untuk mengamankan pembangunan nasionalnya. Dalam kasus Indonesia, strategi energinya dituangkan dalam bentuk Undang-Undang pada tahun 2007, yaitu Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi. Dalam pasal 2 Undang- Undang tersebut secara jelas tercantum strategi pengelolaan energi yang pada prinsipnya didasarkan pada asas-asas manfaat, nasionalitas, efisiensi yang setara, nilai tambah ekonomi, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, keamanan nasional, dan integritas.

Kebutuhan energi nasional hingga tahun 2050 terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, harga energi, dan kebijakan pemerintah. Dengan laju pertumbuhan PDB rata-rata sebesar 6,04% per tahun dan pertumbuhan penduduk sebesar 0,71% per tahun selama tahun 2016-2050 mengakibatkan laju pertumbuhan kebutuhan energi final sebesar 5,3% per tahun. Untuk itu, kebutuhan energi meningkat dari 795 juta SBM pada tahun 2016 menjadi 4.569 juta SBM pada tahun 2050. Pada tahun 2050, pangsa kebutuhan energi final terbesar adalah bahan bakar minyak (BBM) yakni sebesar 40,1%, diikuti oleh listrik (21,3%), gas (17,7%), batu bara (11,0%), dan sisanya LPG, bahan bakar nabati (BBN) dan biomassa masing-masing di bawah 4%. Berdasarkan data tersebut lebih dari 50% sumber energi di Indonesia berasal dari bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tidak terbarukan sehingga apabila dieksploitasi terus menerus cadangan bahan bakar tersebut dapat habis.

Berdasarakan BPPT Outlook Energi 2018, cadangan minyak bumi Indonesia pada tahun 2016 adalah 7.251,11 MMSTB atau mengalami penurunan 0,74% terhadap tahun 2015. Serupa dengan minyak bumi, cadangan gas bumi juga mengalami penurunan terhadap tahun lalu sebesar 5,04%. Menurut data dari SKK Migas, cadangan minyak yang sudah diproduksi adalah sekitar 92,1% terhadap total cadangan, sedangkan cadangan gas bumi yang telah diproduksi adalah sebesar 34,5% terhadap total cadangan. Produksi minyak bumi saat ini sebesar 338 juta barel dan dengan mempertimbangkan cadangan terbukti minyak yang ada, maka diperkirakan cadangan terbukti minyak akan habis dalam kurun waktu 9 tahun lagi.

Salah satu cara untuk menjaga ketahanan energi di Indonesia adalah dengan memanfaatkan potensi energi baru-terbarukan. Energi baru-terbarukan merupakan energi terbarukan yang pemanfaatanya belum secara umum atau luas dipakai. Di Indonesia potensi energi tersebut datang dari beberapa sumber, di antaranya biomassa, nuklir, dan energi kelautan Sebagai negara maritim Indonesia memiliki potensi laut yang tidak hanya mendatangkan
manfaat dalam segi perikanan atau pariwisata melainkan juga potensi energi yang dapat
dimanfaatkan. Energi kelautan dapat berasal dari beberapa sumber yaitu gelombang laut, arus laut, energi pasang surut, dan energi panas laut. Pembangkit energi yang berasal dari gelombang laut dapat disebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL). Saat ini telah banyak jenis teknologi yang dikembangkan pada pembangkit listrik tenaga gelombang laut, di antaranya teknologi buoy type, teknologi overtopping devices, dan teknologi Oscilatting Water Column (OWC).

Di Indonesia teknologi yang cocok diterpakan adalah teknologi OWC. Hal ini dikarenakan teknologi OWC sangat cocok dibangun di daerah dengan topografi dasar laut yang landai dan memiliki ketinggian gelombang laut yang konstan, serta tidak memerlukan daerah konstruksi yang luas. Lokasinya tersebar di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, Irian Jaya bagian utara, dan sebelah Barat Pulau Sumatera yang sangat sesuai untuk menyuplai energi listrik. Potensi energi kelautan yang datang dari arus laut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut.

Kerja pembangkit listrik tenaga arus laut tidak berbeda jauh dengan pembangkit listrik tenaga angin yang memanfaatkan putaran kincir untuk menggerakkan generator sehingga menghasilkan listrik Kecepatan arus laut minimum yaitu kecepatan 2 m/detik, namun yang ideal adalah 2,5 m/detik. Salah satu tempat yang cocok ada di Pesisir di Selat Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Potensi energi kelautan yang selanjutnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut Laut (PLTPSL). Pasang surut laut adalah gerak relatif dari materi suatu planet, bintang dan benda angkasa lainnya yang disebabkan gaya gravitasi benda angkasa dari luar materi itu berada, sehingga terjadi peristiwa naik turun permukaan air laut disertai gerakan horizontal massa air.

Pasang surut menggerakkan air dalam jumlah besar setiap harinya dan pemanfaatannya dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang relatif besar. Prinsip kerja dari energi pasang surut ini sama dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yaitu pemanfaatan energi kinetik yang dihasilkan aliran air. Potensi energi kelautan yang mungkin jarang didengar adalah energi panas laut atau Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). OTEC merupakan konversi energi panas temperatur air laut menjadi energi listrik dengan memanfaatkan siklus perbedaan temperatur air laut permukaan dengan temperatur laut kedalaman Selisih temperatur ini dapat dimanfaatkan untuk menjalankan mesin penggerak berdasar prinsip termodinamika dengan mempergunakan suatu zat kerja yang mempunyai titik didih yang rendah. Pada dasarnya mesin penggerak ini dapat digunakan untuk pembangkitan listrik. Gas Fron R-22 (CHCLF2), Amonia (NH3) dan gas Propan (C3 H6) mempunyai titik didih yang sangat rendah, yaitu antara -30 °C sampai -500 °C pada tekanan atmosferik, dan +300 °C pada tekanan antara 10 dan 12,5 kg/cm2. Gas-gas inilah yang prospektif untuk digunakan zat kerja pada konversi panas laut.

Potensi energi baru terbarukan di Indonesia yang selanjutnya adalah biomassa. Biomassa adalah material yang berasal dari organisme hidup yang meliputi tumbuh-tumbuhan, hewan dan produk sampingnya seperti sampah kebun, hasil panen dan sebagainya. Pemanfaatan biomassa sebagai sumber daya listrik merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan dalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan ketahanan energi nasional. Secara umum biomassa yang digunakan sebagai pembangkit listrik digunakan untuk bahan bakar dalam pemanasan boiler yang kemudian memberikan uap ke turbin yang terhubung ke generator seperti jika menggunakan batu bara. Namun bahan yang digunakan terbarukan, tidak seperti batu bara. Contohnya bahan baku terutama residu kayu hutan, dan limbah kayu perkotaan/industri.

Selain itu biomassa juga dapat digunakan sebagai pengganti BBM dari minyak bumi melalui bioetanol dan biodiesel. Sumber energi baru terbarukan yang telah sukses dipakai oleh negara-negara maju seperti Jepang dan Jerman adalah energi nuklir. Penggunaan tenaga nuklir merupakan altenatif pembangkit listrik yang cukup ramah lingkungan karena tidak menimbulkan gas karbondioksida, sehingga teknologi yang digunakannya dapat digolongkan teknologi yang telah matang. Untuk melukiskan kandungan energi uranium yang luar biasa, satu kilogram uranium deplesi jika digunakan dalam sebuah reaktor cepat akan memberikan energi setara dengan 1800 ton batu bara. Hasil pemetaan yang telah dilakukan oleh Pusat Pengembangan Geologi Nuklir (PPGN) – BATAN menunjukkan bahwa Indonesia memiliki cadangan uranium sekitar 70.000 ton dan tersebar di berbagai daerah. Cadangan sebesar ini merupakan aset yang berharga bagi negara dalam rangka mengembangkan PLTN di masa depan. Namun dalam PP Nomor 79 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Energi Nasional energi nuklir masih menjadi pilihan terakhir dalam hal pembangkitan listrik.

Pemanfaatan secara maksimal energi-energi baru terbarukan merupakan pilihan yang bijak dalam mencapai tujuan mempunyai ketahanan energi suatu negara. Indonesia juga perlu mempertimbangkan hal tersebut mengingat kemajuan suatu negara juga diimbangi dengan terpenuhinya kebutuhan energi. Selain itu Indonesia dengan luas wilayah yang sangat besar membutuhkan distribusi energi yang besar juga. Sumber energi terbarukan dan baru terbarukan yang memiliki banyak jenis sehingga untuk memenuhi kebutuhan energi satu daerah dengan daerah yang lain dapat dilakukan dengan pembangunan pembangkit listrik yang sesuai dengan karakteristik alam di wilayah tersebut.

Ditulis oleh: M.Rizqiansyah dan R.Dhanoe

Referensi:

Ai Yuningsih dan Achmad Masduki. 2011. POTENSI ENERGI ARUS LAUT UNTUK PEMBANGKITTENAGA LISTRIK DI KAWASAN PESISIR FLORES TIMUR, NTT. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Vol. 3, No. 1: Halaman 13-25

Bijah Subijanto. 2004. PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK Tinjauan dari Perspektif Intelijen. Makalah. Dalam: Seminar Teknologi Pengamanan Bahan Nuklir ke-5 Jakarta, 29September

2018. OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2018. Energi Berkelanjutan untuk Transportasi Darat. :Halaman 18-20. ISBN 978-602-1328-05-7

Ferry Johnny Sangari. 2014. PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK PASANG SURUT AIR LAUT.TEKNOLOGI DAN KEJURUAN, VOL. 37, NO. 1: Halaman 187-196

Imam Bastori dan Moch. Djoko Birmano. 2017. Analisis Ketersediaan Uranium di Indonesia untuk
Kebutuhan PLTN Tipe PWR 1000 MWe. Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol. 19, No. 2: Halaman 95 – 102.

I Wayan Arta Wijaya. 2010. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GELOMBANG LAUT
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI OSCILATING WATER COLUMN DI PERAIRAN BALI. Pembangkit Listrik Tenaga… . Vol. 174 9 No.2: Halaman 165-174

Petir Papilo, dkk. 2015. PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI
Jurnal PASTI Volume IX No 2: Halaman 164 – 176

Sugeng Riyanto. 2017. Kajian Pemanfaatan Potensi Suhu Air Laut Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Menghasilkan Energi Listrik. JURNAL INOVTEK POLBENG, VOL. 07, NO. 1: Halaman 20-28

Tajali, Arif. 2015. PANDUAN PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI SUMBER ENERGI
ALTERNATIF DI INDONESIA.
Penabulu Alliance

Yaziz Hasan. 2002. Nuklir, Energi Masa Depan. Jurnal BATAN.

Add comment