FKMTF Indonesia

Sayap Pesawat yang dapat Menyesuaikan Bentuk

Selama ini bila kita berpergian dengan menggunakan pesawat dan cukup beruntung untuk duduk di samping jendela, kita dapat melihat sayap pesawat yang mengubah-ubah bentuknya seiring pesawat sedang take off, terbang biasa, ataupun saat landing. Hal ini disebabkan parameter sayap yang dibutuhkan memang berubah-ubah pada tiap fase dikarenakan kondisi aerodinamisnya. Walaupun sesungguhnya yang kita saksikan bukan lah sayap pesawat yang bertransformasi bentuk, namun lapisan metal yang berengsel ke sayap itu sendiri, atau yang biasa disebut dengan “ailerons”. Maka, sesungguhnya bentuk sayap pesawat yang ada sekarang tidak lah ideal, dan berefisiensi rendah. Namun, hal ini mungkin akan segera berubah – pada awal April lalu, tim riset gabungan dari NASA dan MIT telah berhasil membuat prototipe sayap pesawat yang dapat merubah bentuk dengan sendirinya, tergantung dari kondisi dan beban aerodinamisnya.

 

 

Dalam sebuah proyek yang disebut dengan MADCAT (Mission Adaptive Digital Composite Aerostructures Technology) ini, sebuah prototipe sayap yang seukuran dengan sayap pesawat yang berkapasitas satu kursi per baris telah berhasil di uji coba pada wind tunnel di NASA. Material sayap pesawat ini terbuat dari “Metamaterial” yang terdiri dari kurang lebih 2.000 struktur kubus kosong berkisi yang disusun secara repetitif dalam bentuk segititga-segitga kecil. Kubus kosong ini disebut dengan “voxels” dan terbuat dari sebuah tipe thermoplastic yang terdiri dari potongan-potongan glass fiber dan polyetherimide. Desain material ini membuat bentuk dari pesawat dapat dengan fleksibel berubah-ubah secara pasif, tanpa perintah manusia, tergantung dari beban, kondisi aerodinamis, dan angle of attack pesawat. Kekakuan dari sayap pesawat ini setara dengan sebuah blok karet, namun dikarenakan kubus-kubus penyusun material ini kosong, massa jenisnya hanyalah satu per seribu dibandingkan dengan karet itu sendiri. Karena sayap pesawat ini dapat mengubah bentuknya sendiri dan sangat lah ringan, maka energi yang dibutuhkan untuk pengoperasiannya juga jauh lebih sedikit, sehingga sangat efisien.

 

 

Selain efisien dalam penggunaan energi, tim riset MADCAT juga telah berhasil mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi satu voxels, yang awalnya 2 menit hingga sekarang dapat diselesaikan dalam 17 detik. Walaupun dalam penyusunan prototipe kali ini masih dilakukan oleh manusia dengan tangan, namun prosesnya dilakukan secara repetitif sehingga direncanakan untuk dapat dilakukan oleh robot-robot autonomous dalam beberapa waktu kedepan. Material sayap pesawat ini ini juga dapat dimanfaatkan untuk struktur-struktur berperforma tinggi seperti jempatan ataupun kipas turbin angin.

 

 

Prototipe dari sayap pesawat ini memang telah dikatakan berhasil. Namun, sepertinya kita masih harus menunggu dalam waktu yang cukup lama hingga model pesawat ini digunakan secara komersil dalam industri pesawat.

 

Referensi

  1. “A new type of airplane wing that adapts midflight could change air travel” diakses pada 11 April 2019 pukul 15.30
  2. “Researchers designed a shape-shifting airplane wing” diakses pada 11 April 2019 pukul 15.40
  3. “NASA AND MIT DEBUT SHAPE-SHIFTING AIRPLANE WING” – diakses pada 11 April 2019 pukul 16.00
  4. “Check out this crazy shape-shifting airplane prototype from NASA and MIT” diakses pada 11 April pukul 20.00
  5. “NASA, MIT Test Futuristic Shape-Shifting Airplane Wing” diakses pada 11 April pukul 20.05

Add comment